Ok kawan, jadi sebenarnya topik ini buat para kawula cewek tapi aku yakin sih para cowok juga pernah melakukan kebiasaan yang satu ini tapi jika diamati memang sering cewek sih jadi pelakunya, so we have to admit it gurls, sorry! Yang lain dan tak bukan yaitu stalking. Jreng jreng… Terus apasih stalking itu ? jadi stalking itu adalah tindakan dimana yaitu sedang menguntit, memantau, mengawasi atau mengikuti seluruh kegiatan seseorang dengan tujuan tertentu, biasanya sih nguntitnya lewat sosial media gitu deh, kayak penasaran kegiatan apa aja sih yang empunya akun untuk hari ini. Yaelah berasa selebriti ada yang nguntit terus penasaran sama lo gitu, kayak secret admire yah. Tapi jangan seneng dulu berasa ada fans dadakan yang stalking-in kegiatan kita lewat sosial media. Kadang itu bisa jadi boomerang juga terus mengganggu loh.
Kalo
buat gue, jadi biasa aja sama stalker, nah lo mau stalking-in apa juga di akun
sosial media gue. Hidup gue flat aja coy, gak ada yang perlu diawasi. Karena
yang biasanya malah gue yang jadi stalker. Wkwkwk itu memang apa adanya. Tapi
jika sudah jadi stalker itu sebenarnya memang membutuhkan banyak energi seperti
halnya membahas topik ini yang juga semua dikerahkan entah pikiran, jiwa dan
perasaan. Ok cukup berlebihan.
Well
pada umumnya yang seru untuk di stalking-in itu adalah masa lalu. Tetiba pingin
ada backsoundnya “Inul Daratista – Masa Lalu”. Karena apapun tentang itu lebih
banyak penasarannya. Bukan karena tidak bisa moveon tapi disaat waktu senggan
lo buat megang gadget dan seketika ada niat aja gitu mau klik beranda sosial
media beliau. Tapi memang sih yang gue dapat dari pengalaman-pengalaman teman
nih. Kebanyakan jadi stalker karena masih ada sisa-sisa serpihan hati itu sih,
yang pada akhirnya memuncak untuk ingin tau keseharian doi ketika sudah ga sama
dia lagi. Tepok jidak sambil bilang “masa lalu…masa lalu”.
Jadi
mau ngakak sendiri juga, gimana perjuangannya seorang stalker yang sebenarnya
mereka tau kegiatan stalking mereka ini bakal membuka luka lama kembali atau
bahkan membuka luka baru ketika stalking ini dilanjutkan. Karena dominan jadi
stalker ini sebagian besar adalah para cewek so disini perasaan para cewek dipertaruhkan. Kenapa guys ? karena
mereka itu penasaran yang memang bukan pada waktunya atau pada tempatnya
sebenarnya. Tapi yah namanya juga cewek stalking tetap aja jalan meski rasanya bak
berjalan di atas batuan berduri dan hati remuk akan menjadi kepingan-kepingan
yang tak beraturan, tapi lihat aja deh besok diulang lagi. Ironi memang tapi
begitulah kehidupan memang berat girls!
But The boys can see the strong of women
is. (sambil nangis dipojokan kamar)
Tapi
sepanjang kegiatan stalking – menstalking ini tidak merugikan atau membahayakan.
Ya sebenarnya ga ada masalah menurut gue tapi jika lo sudah jadi stalker yang
sudah berlebihan kayak lo bakal menghujat karena sehabis stalking lo jadi
emosinal kemudian lo buat caption atau status dengan hujatan karena emosi abis
baca status doi dan atau bahkan lo ikuti kemanapun doi pergi bahkan cari tau
apapun yang dilakuin ditiap harinya. Waah stalker
in high level kayaknya kalo sudah ngikuti kemana-mana, jadi stalker psyco
sih kayaknya .Ya baiknya stop deh jadi stalker. Itu ga sehat. Karena lo buat
masalah baru buat diri lo sendiri. Hindari sosial media untuk jadi stalker buat
sementara waktu. Kasian mental lo. hahaha
Dan
jika lo merasa ada yang stalker-in akun sosial media lo, jika sepanjang apapun
yang lo update tidak merugikan siapapun dan tidak mengancam hidup lo dan orang
lain, ya ga masalah juga lagi sih tapi tergantung tiap orang ada aja yang
merasa keganggu dengan kegiatan para stalker ini atau biasa aja. Karena kalo
buat gue. Puas-puasin aja sih stalking akun gue tapi hati-hati aja lo nanti
te-like updatean gue. Kan berabe ketahuan kelakuan lo, coy..
Kalo
lo stalking-in mantan dan beranjak untuk moveon sebaiknya jangan pernah
stalking doi sementara waktu. Karena rencana lo untuk moveon itu hancur dalam
hitungan detik jika lo awasi terus kehidupan beliau. But I know it’s so hard tapi
coba puasa deh dari stalking sampai waktu dimana lo sudah bener-bener stabil.
Dan
beda cerita lagi untuk stalker yang sifatnya seperti haters. Eiitsss haters disini jangan diartikan dalam artian luas
kaya para selebriti coy, haters disini dalam artian sebenarnya aja yaitu
Pembenci bukan pembanci yah. (Ok..ga lucu). Nah namanya juga kehidupan ada yang
pro dan ada juga yang kontra dalam apapun yang lo lakuin jadi bukan seleb-seleb
itu aja yang punya haters kehidupan seharian, lo mungkin tanpa disadari ada aja
yang kontra sama lo. Kita ga bisa maksa kan tiap orang suka sama apapun yang
kita lakukan tapi memang begitulah, sepanjang lo merasa apapun yang lo buat ga
merugikan siapapun dan menurut lo itu masih bersifat positif yaahh go ahead aja. Tapi lucu sih sudah tau dia itu ga demen sama
lo tapi masih aja stalk akun sosial media lo, tapi biarlah. Tapi memang ada
yang begitu ? ada kok ada.
Terus
yang jadi boomerangnya orang yang suka stalk akun sosial media lo itu biasanya
mereka suka nyinyirin apapun yang lo lakuin. Hadoooh.. kok jatuhnya syirik ya. I don’t know too tapi itu lah yang
menganggu. Kalo mereka-mereka stalking terus anteng-anteng aja, ya monggo tapi
kalo dibuat opini-opini buruk tentang lo tapi ga tau kebenarannya karena
mereka tau cuma dari sisi keahlian
stalkingnya aja. Itulah yang jadi boomerang. Misalnya lo update kayak quote
sedih, terus stalker tersebut bakal beropini jika saat ini lo dalam kesedihan tertimpa
suatu masalah dan membuat opini jika lo sedang sedih padahal realitanya ga
semua apapun yang kita update disosmed mewakili apa yang lagi dirasakan saat
itu kan, mungkin sebagian besar iya tapi kan gak semua orang share kondisi real di sosmed, mungkin
saat itu suka dengan quotenya atau banyak lagi yang itu belum tentu sesuai
dengan kondisi yang terjadi sebenarnya. Nah itulah gak sehatnya stalker jika
jatuhnya membuat fitnah.
Sebenarnya
ada beberapa penelitian yang mengatakan stalking itu adalah kegiatan yang sudah
ga sehat secara mental atau bersifat gangguan, malah sudah menjadi pelanggaran
hukum. Whaaaaaaatttt masa sih? tapi masa iya separah itukah? But another thing it could be right that
stalking is morally wrong that includes deliberately seeking out information
from immoral sources (like from stalker and hackers), and the people you are
stalking know that you are doing it and they judge you negatively for it.
Jadi
jika mau jadi stalker yang sehat-sehat aja deh yah. Jadilah stalker yang bijak!
Dan kalo gue sih ya, tidak dipungkiri gue juga suka stalking tapi stalkingnya
gue cuma sebatas kepo aja. Tidak kurang
dan tidak lebih. Terus stalking-in mantan ? haduuhhh nggak deh, bikin nyesek.
But believe it or
not. All of your social media account… they’ve made us a society of stalkers.
No comments:
Post a Comment