8/29/2017

Ketika Jari-jari Manusia Berubah Fungsi

Di zaman milenial saat ini, orang mudah sekali menumpahkan sesuatu kebencian mereka dengan bertindak tidak sesuai aturannya. Mereka mudah sekali mencaci-maki satu dengan yang lainnya tanpa pikir panjang dulu sebelum melontar kebencian mereka dengan ucapan yang tidak manusiawi. Sekarang ini nih yang gue lihat, mereka ini dengan mudahnya melampiaskan kebencian mereka di sosial media yang notabene-nya seharusnya digunakan dengan cara yang bijak tapi yaitu digunakan malah untuk saling menghujat.

Mungkin sekarang adalah zaman dimana bukan otak yang digunakan untuk berpikir lagi tapi cukup dengan jari-jari saja juga sudah bisa mewakili perasaan bahkan jadi tempat berpikirnya seseorang. Bahkan mudah terprovokasi dari berbagai berita-berita di sosial media yang pada akhirnya memecah-belah satu sama lain. Dengan mudahnya mereka mencela dan berdebat dengan kata-kata tidak sewajarnya didunia maya.

Yang menjadi miris melihat ketika sesama muslim tapi memperdebatkan bahkan mencaci tentang sesuatu yang seharusnya mereka bersatu untuk menjaga kehormatannya. Mereka terang-terangan mengaku muslim tapi mereka mengintimidasi dan men-judge dengan ucapan yang tidak manusiawi kepada saudara sesama muslim ketika menemukan suatu aib entah itu benar atau itu sebuah fitnah. Mereka dengan mudahnya menghardik dan berkata kasar sedangkan jelas-jelas mereka terang-terangan tidak bisa mempertanggung jawabkan dengan anggapan mereka sendiri tapi melihat suatu hal itu mutlak hanya karena berita-berita seliwuran entah yang dibaca itu hoax atau fakta. Ditelan mentah aja apapun berita dari dunia maya ini.

Rasullullah pernah berkata “ Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata yang baik atau diam “

Mungkin bisa kita jadikan renungan sejenak. Jika kita merasa melihat suatu aib dari sesama  maka baiknya tidak perlu berucap atau berkata yang sifatnya membuat suatu argumen yang tidak baik apalagi sampai menggunakan bahasa yang tidak pantas tentangnya. Jangan menghujat dengan sesama hanya karena ingin merasa apa yang kita sampaikan dan apa yang kita lihat itu benar.

Mungkin disini tindakan diam adalah suatu cara yang benar saat kita menemukan suatu aib dari sesama saudara kita, kemudian diam jugalah tindakan untuk tidak membuka aib seseorang. Bukankah semua manusia memiliki aib dalam hidup mereka ?  mungkin saat ini aib saudara kita yang sedang dibuka oleh Allah SWT. Terus bagaimana dengan aib dalam diri kita ? dan mungkinkah saat ini Allah sedang masih menutup aib diri kita. Setelah zaman Rasulullah, sudah tidak ada lagi manusia yang sempurna. Mungkin manusia yang terlihat sempurna saat ini yaitu hanya aib mereka telah ditutup oleh Allah SWT. Jadi coba posisikan diri kita. Kenapa harus menghardik dan menghujat dengan suatu aib orang lain. Karena akan jadi percuma diri ini mengaku jika kita beragama tapi diri ini masih mudah sekali memfitnah atau berghibah ke sesama saudara sendiri.

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu‘anhu bahwsanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian apakah ghibah itu?”. Sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Bagaimanakah pendapat anda, jika itu memang benar ada padanya ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atau memfitnah atasnya”.

Sekarang coba jari-jari kita juga harus perlu dikontrol ketika kita ingin melontarkan pendapat apapun itu di dunia maya, gunakan cara dan bahasa yang baik. Jika kalian membicarakan suatu aib orang lain maka coba jari-jari ini berpikir dua kali dulu atau mungkin beribu-ribu kali. Jika kalian tidak bisa mengontrol diri apalagi tidak bisa mempertanggung jawabkan apa yang jari-jari ini ketik maka sebaiknya cara terbaik adalah diam. Karena generasi milenial saat ini bukan lagi hanya kepala yang isinya otak yang digunakan tapi jari-jari bisa juga berpikir dan ikut andil dalam mengendalikan diri ini.