Di
zaman milenial saat ini, orang mudah sekali menumpahkan sesuatu kebencian
mereka dengan bertindak tidak sesuai aturannya. Mereka mudah sekali
mencaci-maki satu dengan yang lainnya tanpa pikir panjang dulu sebelum melontar
kebencian mereka dengan ucapan yang tidak manusiawi. Sekarang ini nih yang gue lihat, mereka ini dengan mudahnya melampiaskan kebencian mereka di sosial media
yang notabene-nya seharusnya digunakan dengan cara yang bijak tapi yaitu
digunakan malah untuk saling menghujat.
Mungkin
sekarang adalah zaman dimana bukan otak yang digunakan untuk berpikir lagi tapi
cukup dengan jari-jari saja juga sudah bisa mewakili perasaan bahkan jadi tempat berpikirnya seseorang. Bahkan
mudah terprovokasi dari berbagai berita-berita di sosial media yang pada
akhirnya memecah-belah satu sama lain. Dengan mudahnya mereka mencela dan
berdebat dengan kata-kata tidak sewajarnya didunia maya.
Yang
menjadi miris melihat ketika sesama muslim tapi memperdebatkan bahkan
mencaci tentang sesuatu yang seharusnya mereka bersatu untuk menjaga kehormatannya.
Mereka terang-terangan mengaku muslim tapi mereka mengintimidasi dan men-judge dengan ucapan yang tidak manusiawi
kepada saudara sesama muslim ketika menemukan suatu aib entah itu benar atau
itu sebuah fitnah. Mereka dengan mudahnya menghardik dan berkata kasar
sedangkan jelas-jelas mereka terang-terangan tidak bisa mempertanggung jawabkan
dengan anggapan mereka sendiri tapi melihat suatu hal itu mutlak hanya karena
berita-berita seliwuran entah yang dibaca itu hoax atau fakta. Ditelan mentah aja apapun berita dari dunia maya ini.
Rasullullah
pernah berkata “ Barang siapa yang
beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata yang baik atau diam “
Mungkin
bisa kita jadikan renungan sejenak. Jika kita merasa melihat suatu aib dari sesama maka baiknya tidak perlu berucap atau berkata
yang sifatnya membuat suatu argumen yang tidak baik apalagi sampai menggunakan
bahasa yang tidak pantas tentangnya. Jangan menghujat dengan sesama hanya
karena ingin merasa apa yang kita sampaikan dan apa yang kita lihat itu benar.
Mungkin
disini tindakan diam adalah suatu cara yang benar saat kita menemukan suatu aib
dari sesama saudara kita, kemudian diam jugalah tindakan untuk tidak membuka
aib seseorang. Bukankah semua manusia memiliki aib dalam hidup mereka ? mungkin saat ini aib saudara kita yang sedang dibuka oleh Allah SWT. Terus bagaimana
dengan aib dalam diri kita ? dan mungkinkah saat ini Allah sedang masih menutup
aib diri kita. Setelah zaman Rasulullah, sudah tidak ada lagi manusia yang
sempurna. Mungkin manusia yang terlihat sempurna saat ini yaitu hanya aib
mereka telah ditutup oleh Allah SWT. Jadi coba posisikan diri kita. Kenapa
harus menghardik dan menghujat dengan suatu aib orang lain. Karena akan jadi
percuma diri ini mengaku jika kita beragama tapi diri ini masih mudah sekali
memfitnah atau berghibah ke sesama saudara sendiri.
“Dari
Abu Hurairah Radhiyallahu‘anhu bahwsanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda: “Tahukah kalian apakah ghibah itu?”. Sahabat menjawab: “Allah
dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata: “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”,
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Bagaimanakah pendapat anda, jika
itu memang benar ada padanya ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
“Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi
jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atau
memfitnah atasnya”.
Sekarang
coba jari-jari kita juga harus perlu dikontrol ketika kita ingin melontarkan
pendapat apapun itu di dunia maya, gunakan cara dan bahasa yang baik. Jika
kalian membicarakan suatu aib orang lain maka coba jari-jari ini berpikir dua
kali dulu atau mungkin beribu-ribu kali. Jika kalian tidak bisa mengontrol diri
apalagi tidak bisa mempertanggung jawabkan apa yang jari-jari ini ketik maka
sebaiknya cara terbaik adalah diam. Karena generasi milenial saat ini bukan
lagi hanya kepala yang isinya otak yang digunakan tapi jari-jari bisa juga berpikir
dan ikut andil dalam mengendalikan diri ini.